Minggu, 24 Juni 2012
Kearifan lokal Bugis Makassar dalam Pappaseng To-riolo
Pappaseng to-riolo (pesan-pesan orang tua dulu) merupakan sebuah tradisi sastra lisan masyarakat Bugis-Makassar yang dituturkan oleh orang tua dahulu kepada generasinya agar mereka tahu bagaimana harus bertindak dan ber-etika dalam masyarakat. Sebagai masyarakat Bugis Makassar perlu mengetahui secara mendalam tentang arti penttingnya pappaseng sebagai wasiat orang tua kepada anak cucunya (masyarakat) untuk dijadikan sebagai suatu pedoman untuk pegangan dalam mengarungi bahtera kehidupan. Karena orang yang memellihara paseng akan senantiasa terpandang di tengah masyarakat. Sebaliknya yang mengabaikan secara langsung atau tidak langsung akan menanggung resiko yang besar, baik berupa sanksi sosial dari masyarakat maupun berupa peringatan atau hukuman dari Dewata Seuwae (Tuhan Yang Maha Kuasa).
Karena kehadiran paseng sebagai salah satu kearifan lokal budaya bugis Makassar sangat penting untuk membantu menyelesaikan masalah-masalah sosial, maka saya mengangkat paseng ini dalam tugas akhir yang saya buat dengan judul ‘Social value in Buginese ancestors’ message’ (nilai-nilai sosial dalam pesan-pesan orang Bugis dahulu). Di dalamnya saya menguraikan bagaimana setiap kata itu membentuk sebuah penyimbolan untuk pesan yang mengandung nila-nilai sosial karena kita ketahui bahwa bahasa yang terdapat dalam paseng bukan bahasa biasa melainkan bahasa yang banyak mengandung unsur-unsur figurative (bersifat khiasan). Untuk itu diperlukan penguraian yang lebih mendalam.
Berikut ini akan saya uraikan bebrapa Paseng yang mengandung nilai sosial:
1.Tangngai gaukmu naiya muala anre guru. Mualai madécéngé mutettangi majake. Apa iya adaé sionrommui jakna sibawa decenna, makua mutor nawa-nawaé
Artinya : amatilah perbuatanmu dan jadikan sebagai guru (guru dimaksudkan disisni sebagai pedoman dalam bertindak), petiklah yang baik dan tinggalkan yang buruk. Sebab perkataan itu tempatnya keburukan dan kebaikan demikian pula pemikiran.
2.Tanra-tanranna narekko maelokni kiame linoé gilinni bébé tau maccaé
Terjemahan ; tanda-tanda kalau dunia akan kiamat, berbalik menjadi bodoh orang yang pintar
Penjelasan : selama orang pandai memanfaatkan kepandaiannya untuk kebaikan, selama itu ia tidak merusak. Akan tetapi bila kepandaiannya disalah gunakan, maka berubalah ia menjadi bodoh. Karena ia tidak tahu lagi bagaimana memanfaatkan kepandaiannya sehingga ia menghancurkan masyarakat dan kehidupan manusia. Jika terjadi hal demikian mungkin dunia belum kiamat betul tetapi dunia kemanusiaan sudah kiamat. Sebagian lagi cendekiawan yang masih sadar terpaksa bersama orang yang bodoh karena kebenaran yang dianut dari ilmunya tidak lagi mendapat tempat dan penghargaan dari masyarakat.
3.Sipakmi paompoki assalengngé
Terjemahan : wataklah yang menunjukkan asal usul
Penjelasan : jika kita bergaul dengan orang yang berkelakuan tercela, akan timbul anggapan bahwa orang tersebut adalah keturunan yang tidak baik pula, meskipun hal itu hanya dugaan. Dugaan itu karena pertimbangan bahwa orang baik akan mendidik anaknya secara baik pula. Tetapi apabila ada anak yang yang berkelakuan tercela tetapi orang tuanya baik itu berarti bahwa orang tuanya telah gagal menjadi pendidik yang baik bagi anaknya.
Pendidikan mulai dari rumah atau keluarga, dan kesalahan utama dari orang tua yang gagal sebagai pendidik dikarenakan terlalu mencintai anaknya sehingga mereka memberikan kesenangan terhadap anak tersebut bukan ilmu.
Yang dimaksudkan asal usul disini adalah yang menyangkut watak seseorang. Bukan menyangkut kedudukan sosial. Karena orang yang paling miskin bukanlah orang yang tidak memiliki harta tetapi yang miskin budi pekerti.
4.Padai manu déé léranna
Terjemahan : seperti ayam tanpa teratak
Penjelasan : Paseng ini diumpamakan bagi orang yang tidak memiliki tujuan hidup. Atau orang yang tidak mengetahui bahwa yang terpenting di dunia ini bukan kerja di mana kita berdiri,akan tetapi ke arah mana kita akan pergi (tujuan hidup). Untuk itu agar kita tidak tersesat kelak kita harus memiliki tujuan hidup karena orang yang tidak memiliki tujuan hidup akan disesatkan oleh zaman.
5.Tessirebbang tangnga, tessiwelaiyang janci
Terjemahan : tidak batas membatasi pertimbangan, tidak ingkar janji.
Penjelasan : didalam kehidupan bermasyarakat, agar hubungan dengan pihak lain terjalin erat dan mencapai kerjasama yang tinggi, diperlukan pertimbangan-pertimbangan bersama guna saling mengisi kekurangan masing-masing dan kerjasama lebih kuat bila masing-masing menepati janji. Mutiara bertambah indah karena diuntai menjadi perhiasan, seindah hidup bila dijalin dengan pengertian dan kerjasama yang baik.
Dari beberapa contoh paseng yang saya uraiakan diatas, saya berharap kita bisa kembali mengingat kearifan lokal budaya kita karena sebenarnya nenek moyang kita dahulu kala telah banyak meninggalkan pelajaran yang sangat penting dan berharga dalam berkehidupan dan bermasyarakat. Ajaran mereka murni dan tanpa terpengaruh budaya-budaya modernisasi yang kadang menyesatkan bagi kehidupan masyarakat.
Untuk itu, Sudah selayaknyalah kita melihat ke belakang dalam artian kembali melirik kearifan lokal budaya kita untuk menyelesaikan maslah-masalah yang terjadi saat ini utamanya dalam kehidupan sosial masyarakat, seperti korupsi, perselisihan dalam masyarakat, dll. Kembali kita mengingat pesan-pesan nenek moyang kita dahulu. Jangan hanya sekedar dipelajari di bangku sekolahan tapi juga diterapkan dalam bermasyarakat agar kehidupan bermasyarakat bisa terjalin aman, tentram dan damai.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
semangat Indonesia..
BalasHapusI love Indonesiaaa....