April 2, 2012
Terakhir kali saya menangis tersedu-sedu waktu SD karena jatuh dari sepeda, tapi kini saya merasakannya lagi. Mungkin karena saya sudah berada di rumahku (BTP). Jadi saya terkenang dengan segala hal tentang kakakku dan adik perempuanku. Rumahku kini tampak sepi tak seperti dulunya. Dulu kami tinggal ber-empat (Kakakku ‘fardi’, saya, adikku ‘nini’, dan ‘milo’). Fardi baru saja menyelasaikan studix dan mendapatkan gelar ST, dan sekarang dia telah dipanggil bekerja pada salah satu perusahaan di bagian Kalimantan. Sedangkan Nini baru saja diterima sebagai karyawan Tonasa, yang secara otomatis dia akan menghabiskan hari2x kebanyakan di Pangkep.
Sedih juga rasanya jika mengingat kita sudah berada di langit yang berbeda. Sekarang saya hanya tinggal berdua di rumah ini. Dulunya saya selalu menyiapkan makanan yang banyak untuk ber-empat tapi sekarang saya hanya memasak setengah dari biasanya.
Saya sadar kalau kita tak selamanya harus bersama dan suatu saat kita pasti akan mencari jalan hidup kita masing-masing. Begitulah normalnya kehidupan manusia. Tapi untuk saat ini saya belum siap berpisah dengan kalian. Saya masih mau menikmati saat-saat seperti kita masih kecil dulu, makan bersama dan terkadang saling berebutan, tidur sama-sama, nonton tv bersama dan terkadang pula sakit bersama. Dan saat kita mulai beranjak dewasa dan meninggalkan kampung halaman untuk melanjutkan studi kita ke jenjang yang lebih tinggi kita mulai hidup jauh dari orang tua. Saya tau mereka pasti sedih karena kita meninggalkan mereka namun satu sisi mereka juga bangga karena masih bisa memberikan kita pendidikan yang layak. Orang tua kita tak pernah berpesan untuk saling menjaga karena mereka bukan tipe melankolis. Mereka adalah orang-orang yang kuat dan tegar dan nampaknya itu menurun pada kita anak-anaknya. Namun, meski demikian kita bisa secara otomatis menjalankan peran kita sebagai kakak atau adik.
Walau kita tak seperti kakak-beradik yang ada di dunia ini, dimana mereka kelihatan cukup intim dengan panggilan-panggilan sayang tapi kita saling menjaga dan menyayangi dalam diam, dengan cara kita sendiri, dengan tatapan mata yang mengandung makna, dengan segala hal yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata yang hanya bisa dirasakan oleh kita sendiri.
Maafkan malam ini karena saya telah membuat kata-kata lebay yang tak biasanya kita tunjukkan tapi saya benar-benar tak bisa menahan gejolak di jiwa saya karena ini baru pertama kalinya kita berpisah dalam waktu yang mungkin cukup lama. Dan malam ini saya tak bisa pungkiri kalau ‘SAYA BENAR-BENAR RINDU KALIAN’. Rumah ini terasa tak lengkap tanpa kalian, rumah ini terasa sepi tanpa kalian. Sementara barang-barang yang kalian sering kalian pakai dan tinggalkan seolah menandakan kalau kalian ada di sini. RUMAH INI BENAR-BENAR TERASA ASING TANPA KALIAN. (I need a tissue to wipe my tears).
Saya harap meski kita berada di langit yang berbeda namun, rasa sayang yang dulu kita miliki tetap sama seperti saat kita bersama dulu, juga kita bisa saling menjaga meski jauh. “Sebuah ikatan persaudaraan yang indah”. Saya harap kita bisa bersama-sama dengan kedua orang tua kita selamanya di dunia dan akhirat!! Amin…
"Kalau sudah tiada... baru terasa bahwa kehadirannya sungguh berarti...
BalasHapusSunnguh berat aku rasa kehilangan dia.... sungguh berat aku rasa hidup tanpa dia..."
Kira2 spti itulah sepenggal lirik dari Lagu Bang Roma. Kadang seseorang harus ada agar kita tahu bedanya saat dia tak ada, dan kadang seseorang harus tak ada agar kita bisa merasakan kehadirannya saat dia ada...
Salam...
LeriHong
@anonim : iya...sepakat!! salam kenal.. thanks for comment
BalasHapus>x(^_^)x<
Amin. This was post 2 years ago, mudah2an sudah ngumpul lagi sih
BalasHapusOh ia, milo ngapain? Kakak dan adilmu nini kerja