Kamis, 30 Desember 2010

Bahasa, Ekspresi dan Tutur

Bahasa, ekpresi dan tutur merupakan uatu bentuk kebudayaan yang nampaknya mengalami kemunduran eiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahasa, ekspresi dan tutur di tahun 1980-an sangat berbeda dibandingkan dengan tahun 2000-an. Misalnya dalam sebuah analisis saya lukiskan generasi X dan generai Y. genersai X adalah generasi yang hidup di tahun 1980-an sedangkan generasi Y adalah generasi yang hidup di tahun 2000-an. Pada generasi X, mereka sering melaksanakan pertemuan di sebuah tempat yang bernama baruga untuk berkumpul dan saling bercerita mengenai perkembangan daerahnya dan hal-hal yang ingin mereka lakukan untuk daerahnya. Namun pada generasi Y, orang-orang sudah jarang bahkan tidak lagi mau berkumpul dan berbincang-bincang bersama, mereka hanya sibuk dengan urusan masing-masing. Dan baruga pun telah jarang digunakan bahkan ada yang mulai rusak dan sama sekali sudah tidak bisa digunakan. Selain itu pada generasi X, orang-orang dulunya berbahasa dengan sopan dan saling menghargai. Namun pada generasi Y, tata krama dalam berbahasa itu sudah mulai luntur dan muncul pula bahasa-bahasa slang atau bahasa gaul dalam masyarakat. Tak jarang orang-orang yang hidup zaman sekarang lebih sering menggunakan bahasa slang dari pada bahasa Indonesia.
Berdasarkan analisis diatas, kita bisa melihat perbandingan yang jelas antara kedua generasi tersebut. Bahasa, ekspresi dan tutur kini mulai luntur ini disebabkan oleh adanya pengaruh teknologi. Pada akhir abad ke-20, alat-alat komunikasi yang potensial telah diperkenalkan ke dalam ritualit kehidupan masyarakat. pertama kali telepon, lalu disusul dengan radio dan setelah perang dunia II datanglah televisi. mereka yang menanagani pemograman mulai mengembangkan sesuatu yang dianggapnya dapat menarik dan menyenangkan anak-anak. Namun, media-media tersebut justru menyuguhkan berbagai pendangan hidup yang sangat variatif pada anak. Hasilnya sangat dramatis, baik dari internet, radio, film, televisi, VCD, majalah, anak-anak jadi terbiasa melihat dan menyimak pandangan hidup yang bervariasi, bahkan banyak di antara pendangan dan nilai kehidupan tersebut dalam kehidupan keluarga tidak akan mereka temui. Sekarang pun muncul alat-alat cetak terbaru dengan komputerisasi yang relatif lebih ekonomis. Buku komik muncul dan penerbit melihat peluang besar dalam segmen pasar anak. buku-buku ini menjadi penyampaian cerita kriminal, horor dan semua bentuk kejanggalan kehidupan. Pada saat yang bertepatan, internet pun berubah drastis, apalagi setelah munculnya jejaring sosial yang bernama ‘facebook’. Orang-orang lebih banyak mengeksresikan dirinya melalui facebook dari pada budaya tutur yang telah mereka miliki sejak dulu.
Hal tersebut membuat budaya tutur yang ada dalam masyarakat semakin luntur. Budaya tutur bukan hanya bertutur melainkan darinya banyak pesan yang disampaikan. Ada ruh yang menjiwai tutur. Ada yang tersirat dari yang tersurat, di mana bahasa tak hanya berkutat dalam tataran verbal dan lateral juga body language, juga interaksi simbolik, menjadikan sebuah identifikasi, penanda diri. Budaya tutur yang merupakan corak masyarakat kuno (awam) dipandang, misalnya, sebagai penghambat kemajuan bangsa. Supaya suatu bangsa menjadi maju seiring arus zaman, maka budaya tutur harus diubah kepada budaya menulis, karena tradisi tulis-menulis selalu identik dengan kemajuan sebuah peradaban keilmuan. Sejauh ini, memang belum ada perintah siapa pun untuk melarang orang bertutur. Tetapi, budaya bertutur itu-budaya duduk bersama, budaya berbincang, budaya dialog, dan budaya kerja sama--telah menghilang dari sebagian diri kita. Sebagian mengambil alasan karena kesadaran kita yang nyatanya telah menghegemoni dengan keadaan baru. Tetapi sebagian lagi mengaku bahwa budaya tutur telah dikebiri dengan alasan yang belum jelas.
Mempelejari budaya tutur dari suatu kaum/bangsa menurut saya sangat perlu, karena dalam sebuah gambaran aplikasi sederhana, budaya tutur apabila diterapkan pada saat ini mampu menjawab persoalan-persoalan mendasar bangsa mulai dari tingkatan paling dasar sebuah bangsa. Budaya tutur mampu menjawab persoalan-persoalan klise sebuah keluarga, karena dalam budaya tutur, interaksi emosional antara orangtua dengan anak, jembatan komunikasi antara orangtua dengan anak, serta kepercayaan antara orangtua dengan anak dibangun dengan sendirinya dalam proses bertutur tersebut. Orangtua akan mendapat kepercayaan penuh sang anak, sementara sang anak akan mendapatkan sosok yang dapat diajak berbicara, karena dalam budaya tutur selalu terjadi proses dialektika. Budaya tutur adalah konteks, bukan hanya sekadar teks.
Selain itu mempelajari budaya tutur juga bisa menciptakan interaksi sosial dalam masyarakat. manusia berinteraksi dengan sesamanya dalam kehidupan untuk menghasilkan pergaulan hidup dalam suatu kelompok sosial. pergaulan hidup semacam itu baru akan terjadi apabila manusia dalam hal ini orang perorangan atau kelompok-kelompok manusia bekerjasama, saling berbicara dan sebagainya untuk mencapai tujuan bersama. Budaya tutur juga bisa dijadikan materi dalam menyusun strategi tutur untuk kepentingan institusi karena ini bisa membuat hubungan antara orang-orang semakin dekat dan akrab sehingga mereka dengan mudah bisa berkomunikasi mengenai perkembangan institusi dan hal-hal yang dibutuhkan untuk mengembangkan institusi tersebut.
Di tahun 1980-an hingga paruh akhir 1990-an para pejabat dan petinggi di Indonesia labih cenderung berbahasa, berekspresi dan bertutur secara samar dan taktis. Noam Chomsky, seorang pemuka bahasa, menyebut gejala ini sebagai “Double speak”, ini dipakai untuk menyamarkan tindakan-tindakan repersif dan diskriminatif. Begitu pula pada era reformasi, menurut saya pejabat dan petinggi negaranya masih ada yang menggunakan “double speak” untuk menutupi kesalahan mereka seperti korupsi. Namun bahasa, ekspresi dan tutur publik di era ini sudah tidak mengandung “double speak” karena publik sudah mulai berani melakukan protes dan demo kepada para petinggi negara yang melakukan kesalahan. Di era reformasi ini gerak dan gulirnya banyak diwarnai oleh euphoria-nya orang yang memanfaatkan kebebasan. Bagaikan orang yang terkurung dalam penjara selama puluhan tahun kemudian melihat tembok penjara runtuh. Mereka semua keluar mendapati pemandangan yang sangat berbeda, kebebasan dan keterbukaan yang nyaris tak terbatas. Suasana psikologis eforia itu membuat masyarakat tidak bisa berfikir jernih, menuntut hak tapi lupa kewajiban, mengkritik tetapi tidak mampu menawarkan solusi.
Era reformasi membawa masyarakat Indonesia lebih terbuka dan berani mengungkapkan pendapatnya. Hal ini hampir mirip dengan bahasa publik sekarang ini. Dimana semakin banyaknya masyarakat yang berani menyampaikan aspirasinya lewat demo-demo yang kita saksikan yang terjadi belakangan ini. Mungkin perbedaannya adalah kepada subjek mana diarahkan bahasa yang berani dan menantang itu. Pada masa orde lama atau pada masa awal kemerdekaan dan keluar dari belenggu penjajahan, arah keberanian dan kelantangan itu lebih ditujukan kepada bangsa penjajah dan antek-anteknya. Akan tetapi, jelasnya, pada masa sekarang ini subjeknya adalah pihak penguasa dan yang terkait dengan kekuasaan. Era reformasi membawa masyarakat Indonesia lebih terbuka dan berani mengungkapkan pendapatnya.
Banyak tokoh yang terkenal dan menorehkan sejarah dunia, bukan karena kekayaan atau jabatannya, melainkan karena kemampuan mereka dalam hal menginspirasi jutaan orang. Kemampuan inilah yang dinamakan dengan public speaking. Mengikuti perkembangan zaman, kemampuan ini mungkin tidak dapat membuat kita melakukan hal yang sama seperti tokoh-tokoh terdahulu. Akan tetapi, hampir dipastikan kemampuan ini mampu membawa kita memperoleh kesuksesan di berbagai bidang. Sebelum menjadi public speaker Seseorang harus memahami kepribadiannya sebelum menciptakan sebuah komunikasi. Memang sangat sulit untuk berkepribadian seperti yang kita inginkan, dalam hal ini ingin menjadi orang yang selalu siap tampil berbicara di depan banyak orang. Selain itu ia dituntut untuk tampil meyakinkan. Semua perkataan, penampilan, dan perilakunya dapat saja menjadi inspirasi bagi para pendengarnya. Untuk itu, unsur motivasi komunikasi harus melekat dalam diri seorang public speker guna menghindari kekhawatiran-kekhawatiran yang membuat ia ragu dengan kemampuannya.
Persiapan yang bisa dilakukan saat menjadi public speaker yaitu : Rileks, pastikan kondisi tubuh & suara fit, segar dan normal. Atasi rasa gugup dengan menarik nafas panjang dan dalam, menggerakkan badan sedikit untuk sekedar melemaskan otot yang kaku, berdiri tegap lalu tersenyumlah, kenalilah ruangan tempat anda akan menjadi pembawa acara / entertainer, kenali karakteristik tamu dan pandang mereka sebagai sahabat, kuasai bahan/ acara yang akan dibawakan, baca literature yang diperlukan untuk menunjang pengetahuan anda, karena semakin banyak yang anda ketahui tentang acara yang anda bawakan, pasti semakin percaya diri, buat poin-poin untuk membantu mengingat apa yang akan disampaikan, jangan terlalu sering mengucapkan kata (meminta) maaf pada audience, jangan tinggalkan daftar acara atau rundown acara (meskipun sudah ada stage manager), lakukan gerakan tangan seperlunya saat sudah berada di atas pentas. Jangan sampai berlebihan apalagi untuk menutupi kegugupan. Karena gerakan tubuh yang berlebihan hanya akan mengacaukan penampilan anda. Tampillah percaya diri dan beyourself saat anda menjadi entertainer sejati.
Konsekuensi dan resiko yang saya tanggung apabila menjadi public speaker yaitu mungkin terkadang materi yang dibawakan kurang memuaskan sehingga audience tidak menaruh perhatian dan kita seolah berbicara sendiri diatas panggung. Terkadang pula kurangnya penguasaan materi yang akan disampaikan menyebabkan kita grogi atau kurang percaya diri di atas panggung. Akan tetapi, sebagian besar orang cenderung merasa rendah diri terhadap permasalahan ini. Khususnya ketika ia membandingkan dirinya dengan tingkat status, nilai, penampilan, penghasilan, atau kecerdasan dari calon pendengar yang akan dihadapinya. Secara langsung hal ini akan menyebabkan depresi. Maka dari itu, dibutuhkanlah sebuah kekuatan dari dalam diri individu untuk selalu berpikir positif. Potensi-potensi yang ada pada diri sendiri hanya butuh ditampilkan.

6 komentar:

  1. thanks banget buat artikelnya yo Mbak...
    kini aku dapat mengerjakan tugasku dengan lancar...

    BalasHapus
  2. iy, sm2. ni dgn sopo yh??
    temen kuliah ku yh???

    BalasHapus
  3. + canggihki blogmu kawan...
    pemiliknya jg tambah cantiki :)

    BalasHapus
  4. @adnan : mkasih broo...
    jdlah pengunjung setia blog ku. hehehe

    BalasHapus

give your comment....